Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan

Mei 29, 2010

Ibunda

Oleh: SangKodok

“Saya belajar dari Maxim Gorki yang betul-betul saya kagumi. Gorki kalau menulis bagai memegang tiang rumah, kemudian mengguncangkannya sehingga semua berubah dan bergerak”. (Pramoedya Ananta Toer)







Judul:Ibunda
Pengarang:Maxim Gorky
Penerjemah:Pramodya Ananta Toer
Penerbit:Kayalamitra Jakarta

Novel yang berjudul Ibunda (Matt dalam bahasa Rusia) ditrjemahkan oleh Praoeda Ananta Toer dar karya yang monumental Maxim Gorki. Novel ini bercerita mengenai pengalaman Pelagia, janda seorang montir pabrik. Tokoh utama dalam novel ini tidak ditampilkan dalam sosok ang memiliki keindahan fisi. Badannya bongkok dan miring, wajahnya kerut marut, alisnya terbelah oleh bekas luka. Penampilanna lebhi tua dari usianya yang empat puluh, bukan dikarnakan akibat kerja yang sangat berat akan tetapi lebhi dikarnakan sepanjang pernikahannya ia hidup diantara pukulan dan caci maki suaminya. Plagia mewkili sosok perempuan yang bukan saja tercabik-cabik oleh kemiskinan akan tetapi juga terkurung oleh tatanan yang tidak menghargai perempuan. Praktek kekerasan dalam rumah tanggadigambarkan sebagai sesuatu kebiasaan yang sudah diterima sebagai kenyataan hidup.

Melalui sosok yang paling menderita, pembaca diajak oleh penulis memasuki dunia kaum buruh di kota industry di Rusia dengan latar belakang awal abad ke-20, dimana ketika benih-benih revolusi mulai muncul. Di dalam novel ini digambarkan situasi kumuh yang mewarnai kehidupan kaum buruh. Seluruh hidup kaum buruh dikendalikan oleh peluit pabrik dan digilas oleh kemiskinan, sehingga banak para buruh yang lari pada minuman-minuman keras dan menyalurkan rasa getir dan marah kepada orang yang berada pada posisi lemah. Lingkaran hidup yang berawal dengan kelelahan, kejenuhan, kemiskinan dan berakhir pada jerat alcohol dan kekerasan terus berputar karna semua itu sudah diterima sebagai suatu hal ang biasa.

Dalam alur novel ini, lingkaran kepasrahan ini pada akhirnya dipatahkan oleh seorang pemuda buruh bernama Pavel Valssov seorang anak dari Palagia Valssov. Pavel membenci sikap ayahnya yang telah dikuasai oleh alcohol, walaupun ia pada saat remaja ia sempat hanyut pada arus lingkungannya. Ia disadarkan oleh buku-buku yang ia baca, buku-buku sosialis ia berubah menjadi seorang pemuda ang secara serius mencari apa yang dianggapnya sebagai kebenaran, dan memikirkan usaha untuk merubah lingkungannya.

Walaupun Pelagia bergembira bahwa anak semata wayangnya itu tidak terjerumus oleh alcohol, akan tetapi ia juga merasa sangat khawatir dan bertanya-tanya akan perubahan yang telah terjadi pada diri anaknya. Apalagi pada saat anaknya menerima tamu yang membicarakan hal-hal yang berada diluar jangkauan pikirannya. Ketika kata-kata “Sosialis” dan “Komunis” didengarnya dari percakapan itu, tubuh sang ibupun gemetar karna hal ini disebabkan dari kehidupan sang ibu yang dibesarkan dalam tatanan yang mensosialisasikan dua kata itu sebagai momok yang menakutkan. Kaum sosialis adalah penjahat dan penghianat yang melawan dan ingin membunuh Tsar.

Alur cerita kemudian menggambarkan tahap demi tahap proses perubahan bukan pada diri Pavel, melaiknkan pada diri Ibunda. Cerita ini pada intinya disampaikan dengan teknik narrator orang ketiga melalui sudut pandang (terbatas pada) tokoh sang ibu. Narrator masuk kedalam visi sang ibu yang tekun dan saleh pada agamanya. Melalui mata dan telinga sang ibulah proses menuju revolusi sosial disampaikan.perubahan pada diri ibu dari rasa kahwatir dan takut berubah menjadi pendukung setia gerakan anaknya, bahkan sampai menjadi aktifitas yang tak kalah bersemangat. Hal ini digambarkan secara realitas tahap demi tahap.

Perubahan itu bukan dating dari kesadaran pikiran, melainkan diawali kepekaan seorang ibu terhadap perasaan-perasaan positif yang dirasakan muncul pada pertemuan-pertemuan aneh yang dilakukan oleh kawan-kawan anaknya. Ia melihat bagaimana perdebatan-perdebatan yang sengit dalam rapat-rapat ang tidak pernah diakhiri oleh kekerasan, hal itu merupakan suatu hal yang asing dalam kehidupanna. Kemudian ia mulai menangkap dan merasakan semangat yang begitu berkobar pada diri anaknya. Kesetiakawanan para aktifis itu kemudian dirasakan sangat kontras dengan kehidupan para buru yang tidak jauh dari kekerasan, keseweng-wenangan polisi, kelicikan para intel, kecurigaan pada tetangga dan ucapan makian dari orang-orang yang tak menginginkan perubahan.

Maka Ibunda yang buta huruf mulai tertarik untuk kembali belajar membaca, suatu hal yang tela lama ia tinggalkan semenjak menikah. Dorongan itu muncul karna sang ibu ingin mulai tergelitik untuk ingin tahu berbagai macam hal yang dibicarakan dengan penuh antusiasme oleh anaknya dan kawan-kawannya. Ia mulai membuka buku-buku tentang hewan, tumbuhan, negara-negara asing dan berbagai macam bacaan anaknya. Titik bali penting yang terjadi dalam kehidupan ibunda terjadi ketika anaknya dijebloskan ke dalam penjara karna tuduhan menyebarkan pamflet gelap dipabrik. Inisiatif ibunda untuk membantu menyebarkan pamflet dipabrik dengan cara menyembuyikan di dalam keranjang makanan jualannya muncul pertama kali demi menyelamatkan anaknya. Jika penyebaran pamflet terus berjalan berarti tuduhan terhadap anaknya batal.

Ketika usaha tersebut berhasil, dan menyebabkan keonaran di pihak penguasa dan terjadi kegairahan dikalangan buruh, ibunda merasa bangga dan merasa dirinya begitu berarti. Ketika semangat perjuangan anaknya melalui pamflet, bacaan, pertemuan dengan berbagai kalangan aktifis membuatna semakin paham akan nilai-nilai yang diperjuangkan kaum revolusioner. Sang ibundapun sepenuhnya menjadi aktifis sejati. Dalam titik ini cintanya terhadap anak sematawayangnya telah mengalami trensedensi menjadi cinta bagi anak manusia.

Yang menarik dari novel ini adalah, perubahan “Idiologis” dalam diri ibunda yang tidak mengorbankan religiusitasnya yang sangat mendalam. Pelagia dapat mengaitkan faham persaudaraan kaum buruh dengan sosok yang diimaninya, yakni Kristus yang mengorbankan dirinya bagi orang kecil. Akan tetapi pada saat yang sama mata Plagia mulai terbuka untuk membedakan ajaran untuk mencintai dengan praktek-praktek kaum pendeta dan gereja yang memanfaatkan kekuasaan diatas penderitaan orang miskin. Maka Plagia tidak lagi menjadi sekedar seorang yang patuh pada ritual-ritual dan dogma agama, melainkan seorang yang menggali dasar-dasar kepercayaan dengan kritis tanpa tergoyahkan oleh kaum revolusioner sekitarnya yang umumnya tidak percaya lagi dengan Tuhan.

Novel ini tidak saja bisa menjadi inspirasi bagi para perempuan Indonesia untuk menolak bersikap pasrah diri terhadap kemandekan, kemiskinan dan ketidakberdayaan. Novel ini menunjukan bahwa keberanian dan keteguhan bisa mengubah posisinya dari sekedar mahkluk yang dianggap bagian dari isi rumah belaka, menjadi seorang tokoh yang diperhitungkan dalam perubahan masyarakat. Pada saat yang sama novel ini menunjukan bahwa perjuangan untuk merubah masyarakat tidak harus dilakukan dengan kebencian, kemarahan dan kekersan.

Gerakan yang diwakili oleh Pavel dan kawan-kawan adalah sebuah gerakan yang menitik beratkan pada perubahan kesadaran melalui bacaan, diskusi , penyebaran informasi dan perlawanan tanpa kekerasan melalui pemogokan dan cara-cara lainnya. Bahkan ketika pemogokan kaum buruh dihadang dengan senjata para polisi dan tentara, Pavel meminta para demonstran untuk terus maju tanpa senjata dan perlawanan. Itulah sebabnya, Pelagia sang ibu menjadi pahlawan utama novel ini, menghayati dan mendukung perjuangan si anak sepenuhnya, sebab sesuai dengan doktrin yang dianutnya yakni doktrin kashi saying. Novel Ibunda juga menyadarkan kita pada perbedaan antara perubahan untuk kepentingan sesaat dan perubahan tatanan yang mendasar.

Sebagai karya sastra, Ibunda mewakili suatu genre novel realism sosialis, dengan kekuatan dan kelemahannya. Novel ini secara gambling dan kuat mengandung unsure-unsur propaganda, dan gayanya yang mendeskripsikan keseharian dengan penuh detail untuk menekankan kedekatan dengan kenyataan yang seringkali dipisahkan oleh benang tipis dengan idialisme cita-cita revolusi dengan romantisme perjuangan. Tetapi pesan-pesan propaganda itu dibungkus oleh kekuatan si penulis dalam menghidupkan setiap sosok tokohnya secara individual, dan oleh jiwa yang menyalah dibalik tulisannya. Intensitas Gorki kita rasakan melalui intensitas dan penjiwaan Pramoeda ananta Toer sebagi penerjemahnya.

Buku ini terbit bersama dengan menjamurnya buku-buku “Kiri” lainnya yang meledak, setelah selama 32 tahun dilarang untuk dibaca di negri ini. Akan tetapi ironisnya, disaat tatanan sosialisme komunis tidak lagi menjadi blok yang diperhitungkan. Membaca novel Ibunda mungkin membuat kita memahami mengapa tulisan-tulisan semacam ini ditakuti oleh penguasa. Tetapi lebhi dari itu, kita membaca novel yang menampilkan perempuan sebagai kekuatan perubahan itu sendiri, disaat perjuangan perempuan di Indonesia mencapai titik-titik yang menentukan.
Selengkapnya...

Agama dan Hak Asasi Manusia

Oleh: SangKodok





Judul
:Agama dan Hak Asasi Manusia
Penerbit:DIAN/Interfidei
Halaman:xviii+225 halaman

Agama dalam pandangan para ahli ilmu sosial merupakan suatu gejala sosial, hal ini dikarnakan ketika pemahaman dan pengetahuan yang mendalam tentang agam dikembangkan, diajarkan dan dan dilanggengkan, agama memberikan tekanan penting pada umatnya. Di dalam buku Agama dan Hak Asasi Manusia membahas hubungan antara keduanya, hal ini dimaksud untuk melihat persentuhan dan interaksi antar agama dan komunitas keagamaan. Dimana didunia ini banyak terjadi konflik kekerasan , dan agama merupakan salah satu faktor didalamnya. Pelanggaran HAM, peperangan, kekejaman dan genosida berlanjut.

Jika kita menggangap bahwa agama tidak hanya sebagai cara pandang seseorang dan suatu yang terikat erat dengan komunitas dunia pada umumnya, akan tetapi juga menyangkut emosi-emosi di dalam individu dan kelompok, maka dimensi agam dalam konflik dunia dalah suatu yang esensial. Seperti halnya kasus-kasus ang terjadi di Bosnia, Irlandis utara, Punjab, atau Libanon mengenai konflik etnik, kesenjangan ekonomi, persengketaan tanah bersejarah. Akan tetapi ketika agama menjadi suatu cantelan bagi penindasan dan symbol yang menyebabkan mereka berperang, tentunya hal ini merupakan dinamika baru yang khas untuk masa sekarang. Yaitu ketika nasionalisme dan agama bercampur, kekerasan dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Buku ini dibagi dalam beberapa bab dimana masing-masing bab menjelaskan antara lain:

Didalam bab I buku ini mencoba menguak akar konflik keagamaan yang mengidentifikasi sumber-sumber agama yang disnggap menjadi akar-akar pertikaian, antara lain untuk mengalihkan kepada fungsi yang mendorong sifat saling menghormati dan toleransi sesuai dengan cita-cita yang ada di dalam instrument hak asasi manusia.

Didalam bab II buku ini mengulas militansi agama atau “fundamentalisme”. Dimana jika watak fundamentalisme dikembangkan, yang ada hanyalah kesetiaan pada imam atau pemimpin dan komunitas seiman. Sedangkan pihak lain ataupun komunitas lain diabaikan atau bahkan diijinkan untuk dihancurkan dan dimusnahkan. Jika watak fundamentalisme agama ini dikembangkan, hal ini dapat mengancam hak asasi manusia.

Sedangkan dalam bab III, buku ini mengangkat kembali isu “Universalisme versus Partikularisme” yang dalam perkembangan mutakhir sebenarnya sudah menyurut ketika hak asasi manusia dan konsep-konsep yang berkaitan dengan martabat manusia dan persamaan manusia dianggap sebagai seruan moral. Didalam bab IV, buku ini mendiskusikan sumber-sumber positif agama untuk hak asasi manusia. Dimana hasil dari diskusi adalah bahwa agama dapat secara umum memberikan sumbangannya kepada seluruh matra hak asasi manusia.

Didalam bab V buku ini membahas dialog agama dan hak asasi manusia yang menjadi inti dari buku ini. isi dari bab ini merupakan rekaman dari sebuah pertemuan yang diselenggarakan oleh Proyek Agama dan Hak Asasi Manusia. Jika ditarik kesimpulan buku ini yang pada intinya mempunyai beberapa kesimpulan. Pertama ada data yang jelas bahwa agama merupakan akar pertikaian dan juga digunakan oleh para pemimpin politik untuk memicu pertikaian; kedua dalam tradisi semua agama yang sebenarnya mendorong perdamaian, toleransi, kebebasan berkesadaran, persamaan martabat dan individu serta keadilan sosial; dan yang ketiga bahwa ajaran moral dari tradisi agama-agama cenderung memperkuat dan mendukung nilai-nilai hak asasi manusia.
Selengkapnya...

40 days in Europe

Oleh: SangKodok







Judul
:40 days in Europe
Penulis:Maulana M. Syuhada
Penerbit:Bentang
Halaman:550 halaman

40 Days in Europe merupakan sebuah judul buku yang menceritakan tentang sekelompok anak muda yang berjuang mengenalkan budaya Indonesia melalui alat munsik tradisional ke benua eropa. Penulis buku 40 Days in Europe adalah seorang mahasiswa yang sedang melanjutkan studi master di Jerman, penulis merupakan seorang mahasiswa yang sangat mencintai budaya-budaya tradisional Indonesia. Selama melanjutkan studi di Jerman ia aktif dan sering terlibat di berbagai kegiatan seni dan budaya, hingga pada tahun 2002 ia mendirikan sebuah grup angklung dikampusnya dengan nama " Angklung-Orchester Hamburg", dalam grup angklung tersebut banyak sekali mahasiswa asing yang berasal dari bebrbagai negara yang berbeda belajar untuk memainkan dan mementaskan alat musik yang terbuat dari bambu tersebut.

Membaca buku ini kita seakan ikut merasakan bagaimana perjuangan mereka, suka dan duka dalam perjalanan, serta menyadarkan dan membuat kita merasa bangga menjadi orang Indonesia dengan berbagai macam dan beranekaragamnya kekayaan budaya dan kesenian bangsa kita. Buku ini merupakan hasil rangkuman dari kisah perjalanan si penulis bersama tiga puluh lima personel sebuah grup angklung dari sekolah menegah atas di bandung (SMA 3). Atau yang biasa disebut Keluarga Paduan Angklung SMA 3 Bandung (KPA 3) yang membawa misi budaya “Expand the Sound of Angklung” atau (ESA), selama kurang lebhi 40 hari menggelilingi kota-kota di negara Eropa seperti Frankfurt, Bremen, Berlin, Brussel, Paris, Aberdeen, Brussels, Praha, dan Munchen.

Mungkin kita tidak menyangka alat musik yang terlihat begitu sederhana dan bersahaja dapat menghasilkan harmonisasi suara yang sangat indah dan dapat membuat serta menaklukan kota-kota yang mereka singgahi, mereka dapat membuat penonton terkesan dan merasa takjub ditenggah-tengah arus budaya barat yang mungkin tidak dapat dibendung lagi. Terlepas dari hasil yang membanggakan terebut tidak sedikit kendala-kendala atau problem yang dihadapi oleh mereka ditengah-tengah perjalanan seperti ketika koper besar berisi peralatan angklung yang belum sampai di bandara sementara mereka harus tampil, atau kendala sound system yang tidak memadai di panggung outdoor sementara suara angklung mudah sekali terbawa angin, dan yang paling besar adalah kendala dana, di mana tiba-tiba perusahaan yang menjadi sponsor terbesar mereka membatalkan kontraknya secara mendadak, menjadikan mereka semua harus tetap berusaha menggalang dana di setiap negara yang mereka kunjungi.

Namun, berbekal keberanian, kerja keras serta mimpi untuk membuat tim ini sejajar dengan musisi-musisi internasional lainnya, tak ada rintangan yang tak dapat dilalui. Meski tertatih, kelompok musisi yang membawa misi “Expand the Sound of Angklung” ini terus menebar pesona di seantero eropa. Berbagai kota mereka taklukkan dengan keindahan alat musik tradisional asli Indonesia. Semua terkesan, semua takjub dengan keajaiban yang bisa didatangkan oleh sebuah instrumen musik. Pada akhirnya, misi budaya ini menegaskan identitas sebuah bangsa yang bisa berdiri sama tinggi dengan bangsa-bangsa lainnya.

Banyak pelajaran yang dapat kita ambil setelah membaca buku ini kegigihan dan keingginan yang kuat untuk mewujudkan sebuah impian, kebersamaan serta kerja sama yang memberi arti penting untuk sebuah kesuksesan, dan yang terpenting bagaimana kita bisa memaknai, menerima dan menghargai perbedaan-perbedaan dan menyatukannya dengan budaya. Well, sekali lagi buku ini is a must read. Very inspiring and motivating. Menyadarkan kita bahwa impian sesulit apapun bisa terwujud selama kita mempunyai motivasi, kerja keras dan semangat tinggi. Mungkin satu-satunya kelemahan buku ini adalah halaman-halaman yang berisikan Email-email penulis dengan kenalannya dengan menggunakan bahasa inggris yang membicarakan rencana mereka. The problem is they’re written in English.
Selengkapnya...